Kamis, 09 Juni 2022

BISNIS KEHUTANAN

      Makalah Mata Kuliah Bisnis Kehutanan                                                              Medan, Juni 2022

USAHA MIKRO NELAYAN DI HUTAN MANGROVE DESA SILAU BARU KECAMATAN AIR JOMAN KABUPATEN ASAHAN

 

 

Dosen Penanggungjawab:
 Dr. Agus Purwoko S.Hut., M.Si.

 

Disusun Oleh:

Yuni Andriani Marpaung
191201091
MNH 6



 

 



 



 

 

 



 

DAPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2022 




KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Usaha Mikro Nelayan Di Hutan Mangrove Desa Silau Baru Kecamatan Air Joman Kabupaten Asahan ”. makalah ini disusun sebagai salah tugas mata kuliah Bisnis Kehutanan. Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Bisnis Kehutanan Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si sehingga makalah ini dapat selesai.

            Akhir kata penulis ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Dengan penuh kesadaran mengenai segala kekurangan penulis siap menerima saran dan kritik demi perbaikan makalah ini. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca maupun pihak lain.

 

 

                                                                                                                                    Medan,  Juni  2022



DAFTAR ISI

                                                                                                                                               Halaman

KATA PENGANTAR ........................................................................                                           i

DAFTAR ISI ........................................................................................                                         ii

DAFTAR GAMBAR ...........................................................................                                         iii

DAFTAR TABEL ...............................................................................                                           iv

BAB I     PENDAHULUAN

          Latar Belakang ..............................................................................                                        1

          Tujuan ...........................................................................................                                         2

BAB II   TINJAUAN PUSTAKA

BAB III  HASIL DAN PEMBAHASAN

          Hasil  .............................................................................................                                       6

         Pembahasan ...................................................................................                                       7

BAB IV  KESIMPULAN

          Kesimpulan  ..................................................................................                                      8

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN




PENDAHULUAN

Peran Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)  dalam  perekonomian  Indonesia ditunjukkan oleh  peranannya  sebagai  pelaku  usaha  terbesar,  serta  kontribusinya  dalam  penyerapan  tenaga  kerja,  pembentukan produk domestik  bruto (PDB), ekspor  dan  penciptaan  modal  tetap/investasi. UMKM  memiliki  potensi  yang  begitu  besar  namun  kenyataanya UMKM masih mengalami masalah yang hingga kini masih menjadi kendala adalah keterbatasan modal yang dimiliki dan sulitnya UMKM mengakses sumber permodalan. UMKM memiliki  daya  tahan  yang  lebih  baik  terhadap  krisis terlepas  dari  produktivitas yang rendah. Hal ini dikarenakan struktur organisasi dan tenaga kerja UMKM yang lebih fleksibel  dalam menyesuaikan  dengan  perubahan  pasar. Daya  tahan   dan  fleksibilitas ini  menjadikan  UMKM  digunakan  oleh sebagian besar masyarakat sebagai sumber utama penghidupan (Hamzah, 2019).

Pulau-pulau yang terdapat di Kepulauan Indonesia dicirikan oleh pesisirnya yang sangat beraneka ragam. Sebagian besar pulau memiliki wilayah pesisir yang ditumbuhi oleh hutan basah atau hutan mangrove dan terletak pada daerah pasang surut rendah. Pada umumnya pantai berpasir dan terumbu karang tersebar luas di seluruh pesisir Indonesia. Dari segi estetika, terumbu karang yang masih utuh menampilkan pemandangan yang sangat indah, jarang dapat ditandingi oleh ekosistem lainnya. Taman-taman laut yang terdapat di pulau atau pantai yang mempunyai terumbu karang menjadi terkenal. Sementara itu potensi lestari sumber daya ikan pada terumbu karang di perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 80.802 ton/km2/tahun (Direktorat Jendral Perikanan, 1991), dengan luas total terumbu karang kurang lebih 50.000 km2 (Nursal, 2015).

        Hutan mangrove memiliki potensi sumber daya alam yang sangat banyak untuk dimanfaatkan. Mangrove memiliki peranan penting baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, mangrove berperan sebagai pelindung pantai dari angin, gelombang dan badai. Tegakan mangrove berperan sebagai benteng biologis pemukiman, bangunan dan pertanian dari angin kencang atau instrusi air laut. Secara ekonomis, mangrove dapat dimanfaatkan langsung untuk keperluan sehari-hari seperti kayu bakar, bahan bangunan, keperluan rumah tangga, kertas obat-obatan, kulit kayu dan arang bahkan buahnya dapat diolah menjadi aneka makanan dan minuman (Khoiriah, et al., 2015).

Hutan mangrove adalah salah satu jenis hutan yang banyak ditemukan pada kawasan muara dengan struktur tanah rawa dan/atau padat. Mangrove menjadi salah satu solusi yang sangat penting untuk mengatasi berbagai jenis masalah lingkungan terutama untuk mengatasi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh rusaknya habitat untuk hewan. Kerusakan ini tidak hanya berdampak untuk hewan tapi juga untuk manusia. Mangrove telah menjadi pelindung lingkungan yang sangat besar. Menurut Desyanaputri (2016), Tanaman bakau tumbuh dipantai dan paling banyak dijumpai pada batasan antara muara pantai dengan sungai. Ciri-ciri tanaman bakau ini adalah hidup dengan berkelompok dalam jumlah yang banyak, memiliki akar yang besar dan memiliki buah. Di pantai banyak para petani menanam tanaman bakau, karena manfaatnya yang banyak bagi kelangsungan pantai ditempatnya (Ana, 2015)

            Ekowisata pesisir dan laut adalah wisata yang berbasis pada sumberdaya pesisir dan laut dengan menyertakan aspek pendidikan dan interpretasi terhadap lingkungan alami dan budaya masyarakat dengan pengelolaan kelestarian ekosistem pesisir dan laut. Dengan demikian, ekowisata pesisir dan laut merupakan bentuk wisata yang dikelola dengan pendekatan berkelanjutan dimana pengelolaan bentang alam diarahkan pada kelestarian sumberdaya pesisir dan laut, pengelolaan budaya masyarakat diarahkan pada kesejahteraan masyarakat pesisirdan kegiatan konservasi diarahkan pada upaya menjaga kelangsungan pemanfaatan sumberr daya pesisir untuk waktu sekarang dan masa mendatang. Pembangunan ekowisata di kawasan hutan mangrove dapat dikaji dari aspek ekologi hutan mangrove. Hal ini disebabkan hutan mangrove merupakan objek yang utama dalam kegiatan ekowisata. Pembangunan ekowisata berperan untuk konservasi sumberdaya alam (hutan mangrove) dan membantu masyarakat lokal dalam memenuhi kesejahteraan hidup.

Tujuan

            Adapun Tujuan penulisan laporan yang berjudul “Usaha Mikro Di Hutan Mangrove Desa Silau Baru Kecamatan Air Joman Kabupaten Asahan” yaitu untuk mengetahui jenis usaha mikro yang ada di sekitar mangrove silau baru.



ISI

Salah satu dari 3 kecamatan pesisir di Kabupaten Asahan seluas 60,20km Secara geografis, Kecamatan Tanjungbalai terletak antara 99°45’37” s/d99°51’49” LU dan 2°58’49” s/d 3°5’56” BT, ketinggian 0-1 m diatas permukaanlaut. Disebelah Utara berbatasan denganSelat Malaka dan Kecamatan Silau Laut,disebelah Selatan berbatasan dengan KotaTanjungbalai dan Kecamatan SungaiKepayang Barat, di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Air Jomandan Silau Laut dan disebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan SungaiKepayang Timur dan Selat Malaka


             Gambar 1. Mangrove silau laut

 

Adapun hasil dari usaha bisnis mangrove di desa silau baru kecamatan Air joman kabupaten Asahan yaitu berupa hasil pesisir dan laut yang sangat strategis yang disusun oleh gugusan terumbu karang (coral reef) dan bentangan lamun (seagrass). Ekosistem mangrove berperan sebagai pelindung dan penahan pantai; penghasil bahan organik; habitat fauna mangrove; pengolah bahan-bahan limbah hasil pencemaran industri dan kapal-kapal di lautan; sumber bahan baku industry dan obat-obatan; kawasan pariwisata; pendidikan; penelitian; dan konservasi.

Hasil para nelayan dilaut mangrove silo laut desa silau baru berupa kerang, udang dan jenis ikan lainnya. Kemudian para nelayan akan menjual hasil tangkapan ke pasar terdekat sehingga hasil penjualan dapat menjadi sumber pendapatan bagi para nelayan. Selain itu, para petani mangrove juga menanam tanaman bakau yang mana hasil bibit nya dapat dijual ke beberapa daerah

Pemanfaatan sumberdaya alam yang mengandalkan jasa alam untuk kepuasan manusia. Ekowisata pesisir dan laut tidak hanya menjual tujuan atau objek, tetapi juga menjual filosofi dan rasa sehingga tidak akan mengenal kejenuhan pasar pariwisata (Tuwo, 2011). Pembangunan ekowisata berkelanjutan bertujuan untukmenyediakan kualitas pengalamanwisatawan dan meningkatkan kualitashidup masyarakat lokal. pengelolaan ekowisata laut yang berhasil apabila dapat menarik minatwisatawan untuk berkunjung ke kawasanhutan mangrove. Aktivitas ekowisata yang dapat dibangun di sekitar perairan pantai. Berdasarkan pernyataan Kepala Desa Silo Baru Ahmad Sofyan menjelaskan wisata mangrove ini merupalan kreatifitas kelompok tani di desanya untuk mendongkrak ekonomi sekaligus pelestarian lingkungan

Fungsi pengolahan harus pula dipahami sebagai kegiatan strategis yang menambah nilai dalam mata rantai produksi dan menciptakan keunggulan kompetitif. Sasaran-sasaran ini dicapai dengan merancang dan mengoperasikan kegiatan pengolahan yang hemat biaya atau dengan meragamkan produk. Fungsi teknis pengolahan seharusnya dipandang dari perspektif strategis tersebut. Sehingga manfaat agroindustri adalah merubah bentuk dari satu jenis produk menjadi bentuk yang lain sesuai dengan keinginan konsumen, terjadinya perubahan fungsi waktu, yang tadinya komoditas pertanian yang perishable menjadi tahan disimpan lebih lama, dan meningkatkan kualitas dari produk itu sendiri, sehingga meningkatkan harga dan nilai tambah (Udayana, 2011).

Keadaan nelayan dengan mudah melakukan penangkapan kepiting karena saat itu belum banyak nelayan kepiting. Namun, akhir-akhir ini nelayan sulit mendapatkan banyak kepiting karena adanya banyak nelayan kepiting yang hadir. Akhir-akhir ini rata rata pendapatan nelayan kepiting berkurang karena kepiting yang sudah ditangkap dijual dengan murah kepada pengepul. Nelayan kesulitan untuk mendapatkan kepiting di wilayah sekitar tempat tinggal karena kekurangan peralatan untuk dapat menangkap ke wilayah yang padat kepiting yang letaknya memerlukan perahu

KESIMPULAN

1.        Kekayaan sumber daya alam bahari yang bernilai ekonomis tinggi harusnya bisa menjadi sumber peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir yang mengantungkan hidupnya pada alam. Namun, nelayan terkendala akses pemodalan untuk dapat meningkatkan prasarana penangkapan yang dapat meningkatkan hasil tangkapan.

2.   Nelayan perlu mendapatkan pendampingan secara reguler terlebih dalam mendapatkan fasilitas permodalan dan analisa kelayakan usaha

3.   Pembentukan kelompok nelayan dalam bentuk Kelompok Usaha Bersama dapat menjadi solusi dalam mendapatkan permodalan

4.   Akses pasar hasil tangkap juga harus dibantu mengingat harga penjualan hasil tangkap juga berfluktuasi.

5.       nelayan terkendala akses pemodalan untuk dapat meningkatkan prasarana penangkapan yang dapat meningkatkan hasil tangkapan. Nelayan juga tidak memiliki pengetahuan analisa kelayakan usaha untuk membekali perencanaan usaha yang dapat memprediksi tingkat keberhasilan usaha.


DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Z. W. (2019). Miskin Di Laut Yang Kaya: Nelayan Indonesia Dan Kemiskinan. 1(4), 52–60.

Hamzah, Lies Maria dan Devi Agustien. 2019. Pengaruh Perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan MenengahTerhadap Pendapatan Nasional Pada Sektor UMKM di Indonesia. Universitas lampung. Jurnal ekonomi pembangunan. 8(2): 127-135

Nursal, Fauziah, dan Ismiati. 2015. Struktur dan komposisi vegetasi mangrove Tanjung Sekodi Kabupaten Bengkalis Riau. J. Biogenesis, 2(1):1-

Patra, A. D. A., & Patra, I. K. (2018). Pemberdayaan Manajemen Usaha Kelompok Pembudidaya Tambak di Desa Manurunng Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur. RESONA: Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat, 2(2).

Tristiarto, Y., Kusmana, A., & Siswantini, T. (2017). Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Proposal Pengajuan Kredit Bank Bagi Kelompok Usaha Perikanan di Wilayah Kelurahan Rangkapan Jaya Baru. Bina Widya, 26(2), 95–100.

   
    



Minggu, 28 Maret 2021

POTENSI KEANEKARAGAMAN SATWALIAR UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI LABORATORIUM LAPANGAN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA HUTAN PENDIDIKAN UNHAS

 

 Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                                                     Medan,  Maret  2021

POTENSI KEANEKARAGAMAN SATWALIAR UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI LABORATORIUM LAPANGAN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA HUTAN PENDIDIKAN UNHAS

Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si

 

Disusun oleh :

Yuni andriani Marpaung
191201091

HUT 4D

 





 

 

    

PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021




 

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur praktikan ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan ini dengan judul “Valuasi Ekonomi Sumberdaya Mangrove di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu penulis dalam penyelesaian paper ini, diantaranya Dosen penanggung jawab Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si dan pihak-pihak yang membantu dalam penyelesaian Paper ini.

            Penulis juga menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan Paper ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi kesempurnaan Paper ini. Semoga Paper ini memberikan banyak manfaat kepada para pembaca.

 

                                

            Medan,     Maret 2021

 

 

                                  Penulis



DAFTAR ISI

                                                                                                                                            Halaman

KATA PENGANTAR..........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
   1.1. Latar Belakang...........................................................................................2
   1.2. Tujuan..........................................................................................................3

BAB II ISI
  2.1 Penjelasan.......................................................................................................4
  2.2  Metode Penenlitian........................................................................................5
  2.3  Hasil................................................................................................................5

BAB III PENUTUP
   3.1. Kesimpulan....................................................................................................6
   3.2. Saran...............................................................................................................6

DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hutan adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan pemerintah sebagai hutan. Jika pengertian hutan ditinjau dari sudut pandang sumberdaya ekonomi terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi (Wirakusumah, 2003), yaitu: lahan, vegetasi bersama semua komponen hayatinya serta lingkungan itu sendiri sebagai sumberdaya ekonomi yang pada akhir-akhir ini tidak dapat diabaikan. Sedangkan kehutanan diartikan sebagai segala pengurusan yang berkaitan dengan hutan, mengandung sumberdaya ekonomi yang beragam dan sangat luas pula dari kegiatan-kegiatan yang bersifat biologis seperti rangkain proses silvikultur sampai dengan berbagai kegiatan administrasi pengurusan hutan. Hal ini berarti kehutanan sendiri merupakan sumberdaya yang mampu menciptakan sederetan jasa yang bermanfaat bagi masyarakat Hasil hutan juga jelas merupakan sumberdaya ekonomi potensial yang beragam yang didalam areal kawasan hutan mampu menghasilkan hasil hutan kayu, non kayu dan hasil hutan tidak kentara (intangible) seperti perlindungan tanah, pelestarian sumberdaya air dan beragam hasil wisata (Romimotarto, 2001).

Uraian tersebut di atas terungkap bahwa hutan, kehutanan dan hasil hutan sesungguhnya menjadi sumberdaya (resources) yang mempunyai potensi menciptakan barang, jasa serta aktifitas ekonomi yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kajian ekonomi akan meliputi semberdaya sendiri-sendiri atau secara majemuk sehingga disebut sumberdaya hutan Ekonomi SDH adalah suatu bidang penerapan alat-alat analisis ekonomi terhadap persoalan produksi, permintaan, penawaran, biaya produksi, penentuan harga termasuk dalam kajian ekonomi mikro dan masalah kesejahteraan masyarakat (kesempatan kerja, pendapatan produk domestik dan pertumbuhan ekonomi) yang termasuk dalam kajian ekonomi makro. Kajian ekonomi mikro dalam ekonomi SDH untuk menjawab barang dan jasa hasil hutan apa yang diproduksi sehingga dapat menguntungkan unit usaha (bisnis) sebagai pelaku usaha, sedangkan kajian ekonomi makro akan menjawab bagaimana sumberdaya hutan dimanfaatkan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat dalam pengertian bahwa sumberdaaya hutan telah memberikan kontribusi bagi tersedianya lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan memberikan jasa perlindungan lingkungan bagi semua masyarakat  (Wirahadikusumah, 2003).

Sumberdaya hutan berperan sebagai penggerak ekonomi dapat teridentifikasi daalam beberapa hal, yaitu: pertama, penyediaan devisa untuk membangun sektor lain yang membutuhkan teknologi dari luar negeri; kedua, penyediaan hutan dan lahan sebagai modal awal untuk pembangunan berbagai sektor, terutama untuk kegiatan perkebunan, industri dan sektor ekonomi lainnya; dan yang ketiga, peran kehutanan dalam pelayanan jasa lingkungan hidup dan lingkungan sosial masyarakat. Ketiga bentuk peranan tersebut berkaitan dengan peranan sumberdaya hutan sebagai penggerak ekonomi yang sangat potensial, sangat kompleks dan saling terkait. Ekonomi SDH sangat mendasar posisinya dalam pengelolaan hutan; tanpa pertimbangan atau analisis ekonomi efisiensi pengelolaan hutan sukar tercapai. Analisis ekonomi SDH dapat diketahui apa yang diusahakan, berapa jumlahnya, kapan ditanam dan kapan dipanen serta berapa harga jual sehingga pengelolaan hutan dapat menguntungkan dan berkesinambungan. Pertimbangan- pertimbangan ekonomi tidak hanya pada kegiatan pemanfaatan hasil hutan, tetapi juga berlaku untuk kegiatan konservasi dan rehabilitasi hutan dalam upaya meningkatkan jasa lingkungan dari hutan

Tujuan

1.Mengetahui keanekaragaman satwa liar di Laboratorium Lapangan Konservasi Sumberadaya Hutan dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas.
2. Mengetahui potensi dan sebaran satwaliar yang dapat dikembangkan sebagai objek kegiatan ekowisata di Laboratorium Lapangan Konservasi Sumberadaya Hutan dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas.


BAB II

ISI

2.1 Penjelasan

            Seperti halnya ekosistem hutan lainnya, hutan pendidikan Unhas juga kaya akan berbagai jenis fauna yang khas, dan bahkan dilindungi, serta merupakan salah satu contoh perwakilan dari hutan hujan dataran rendah. Sebanyak 41 jenis burung, telah tercatat menghuni Hutan Pendidikan Unhas. Dari 41 jenis tersebut, sebanyak 35 % atau 14 jenis berstatus endemik, 12,5 % atau lima jenis berstatus dilindungi, serta 7,5 % atau tiga jenis yang berstatus endemik dan sekaligus dilindungi. Selain itu, di kawasan hutan pendidikan ini, juga ditemukan lima jenis mamalia yaitu Babi Hutan (Sus celebensis), Monyet Hitam Sulawesi (Macaca maura), Kus-Kus (Phalanger ursinus), Rusa Timor (Cervus timorensis) dan Tikus Hutan (Rattus sp). Dari kelima satwa mamalia yang ditemukan tersebut, satu diantaranya berstatus dilindungi, yakni Cervus timorensis, sedangkan dua jenis lainnya berstatus endemik dan dilindungi, yakni Macaca maura dan Phalanger ursinus (Achmad dan Nurdin, 2010). Sebanyak 18 jenis reptil juga tercatat di Kawasan Hutan Pendidikan Unhas. Ke 18 jenis reptil tersebut, dapat dikelompokan kedalam dua sub ordo, yakni ordo Ophidia (bangsa ular) sebanyak sembilan jenis dan ordo Sauria (bangsa kadal) yang juga sebanyak sembilan jenis. Dari 9 jenis ordo Orphidia, 44 % diantaranya atau empat jenis adalah merupakan jenis endemik sulawasi (Mallawi, 2010).

Sumberdaya alam yang sangat menarik untuk dijadikan sebagai objek ekowisata, salah satunya adalah satwaliar karena mempunyai peranan yang unik dalam ekosistem (Yoeti 2000, Fandeli 2010, dan Lukman 2004). Menurut Ramdhani (2008) peranan satwa liar dalam ekosistem antara lain (1) berperan dalam proses ekologi (sebagai penyeimbang rantai makanan dalam ekosistem), (2) membantu penyerbukan tanaman, khususnya tanaman yang mempunyai perbedaan antara posisi benang sari dan putik, (3) sebagai predator hama (serangga, tikus, dsb), (4) penyebar/agen bagi beberapa jenis tumbuhan dalam mendistribusikan bijinya. Birdlife Indonesia (2006), Ramdhani (2008) mengatakan bahwa, selain memiliki nilai penting di dalam ekosistem, satwaliarpun bermanfaat bagi manusia, antara lain (1) sebagai bahan penelitian, pendidikan lingkungan, dan objek wisata (ekoturism), (2) sebagai sumber protein yang berasal dari daging dan telurnya (3) memiliki nilai estetika, diantaranya warna bulunya yang indah, suaranya yang merdu, tingkahnya yang atraktif sehingga banyak dijadikan objek dalam lukisan, atau sebagai inspirasi dalam pembuatan lagu maupun puisi, (4) memiliki nilai ekonomi. Salah satu prinsip pengembangan ekowisata adalah memenuhi aspek pendidikan, yakni kegiatan pariwisata yang dilakukan sebaiknya memberikan unsur pendidikan. Ini bisa dilakukan dengan beberapa cara antara lain dengan memberikan informasi menarik seperti nama dan manfaat satwa yang ada di sekitar daerah wisata, yakni manfaat ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Kegiatan pendidikan bagi wisatawan ini akan mendorong upaya pelestarian alam dan budaya, dimana kegiatan ini dapat didukung oleh alat bantu seperti brosur, leaflet, buklet atau papan informasi (Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2002)

2.2 Metode Penelitian

A. Lokasi Kegiatan

Kegiatan penelitian potensi keanekaragaman satwa liar untuk pengembangan ekowisata, berlokasi di Laboratorium Lapangan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas Kabupaten Maros.

 

B. Variabel Yang Dikumpulkan

 Variabel yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah jenis-jenis fauna dan jumlah individu, serta sebarannya dalam areal Laboratorium Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata.

 

C. Cara Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei, yakni melakukan pengukuran langsung di lapangan dengan menggunakan metode line transek (transek garis) dan titik konsentrasi. Transek garis ini diletakkan pada tiga jalur yang berbeda, yakni bagian kiri, tengah dan kanan dalam areal penelitian dengan arah Timur-Barat. Masing-masing transek mempunyai panjang 1.000 m. Titik konsentrasi ditentukan secara sengaja (purposely sampling) pada pohon-pohon tertentu yang menjadi titik konsentrasi burung mencari makan.

 

D. Pengolahan dan Analisis data

 Data satwaliar yang didapatkan dari pengukuran langsung di lapangan, akan digunakan untuk menghitung; (1) indeks kekayaan, (2) indeks kemerataan, dan (3) indeks keanekaragaman jenisnya.

2.3 Hasil

Berdasarkan hasil pengumpulan data pada tiga jalur pengamatan, kemudian dihitung indeks ekologi satwa liar berdasarkan kelompok jenis mamalia, burung dan reptil. Karena sebagian jenis reptil aktif pada malam hari, maka indeks ekologi kelompok satwa ini dihitung berdasarkan yang ditemukan pada siang dan malam hari.

Beberapa jenis satwa liar potensial yang ditemukan selama penelitian di Laboratorium Lapangan KSDH dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas, dijelaskan berikut ini.

A.Monyet Hitam Sulawesi

Monyet Hitam Sulawesi (Macaca maura) adalah merupakan satwa endemik yang hanya mendiami Sulawesi Selatan bagian selatan (Wirawan dan Achmad, 1994). Di Hutan Pendidikan Unhas, satwa ini terdiri dari tujuh kelompok, dimana dua kelompok diantaranya berada di areal Laboratorium Lapangan KSDH dan Ekowisata (Achmad, N.S (2011) dan Langi (2012) telah melakukan penelitian areal jelajah masing-masing pada monyet kelompok tujuh dan enam. Kedua kelompok monyet ini adalah kelompok yang berada pada Laboratorium Lapangan KSDH dan Ekowisata, Hutan Pendidikan Unhas.

B.Kuskus

Kuskus punya daya tarik tersendiri sebagai objek ekowisata. Satwa ini merupakan hewan yang mempunyai gerakan lambat, sehingga bisa diamati tingkah lakunya dalam waktu yang lama. Selama penelitian berlangsung, tidak pernah dijumpai kus-kus. Namun hewan tersebut pernah dijumpai ditangkap oleh seorang penduduk untuk kemudian dibunuh dan dijadikan sebagai pakan anjing.

C.Babi hutan

Areal jelajah babi hutan di Laboratorium Lapangan KSDH dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas mencapai 55,67 ha dan core area adalah 11,6 ha (Sasmita, 2012). Babi hutan sangat menarik sebagai objek ekowisata, karena umumnya mereka melakukan makan secara berkelompok. Namun, tidak jarang ditemui aktivitas makan secara soliter dilakukan oleh individu jantan dewasa. Aktivitas makan yang dilakukan sekelompok babi hutan pada Laboratorium Lapangan KSDH dan Ekowisata

E. Rusa

Meskipun tidak ditemukan langsung, namun hasil penelitian berdasarkan jejak, diketahui bahwa rusa terdapat di sekitar stasiun penelitian Laboratorium KSDH dan ekowisata. Jejak rusa ditemukan bercampur dengan jejak babi hutan di sekitar sumber air sungai yang berada dekat dengan stasiun penelitian. Selain itu, juga terdengar lengkingan suara rusa pada hari ke tujuh penelitian berlangsung.

F. Musang

Musang adalah merupakan satwa yang berstatus dilindungi, dan juga merupakan satwa nocturnal, sehingga pengamatan harus dilakukan pada malam hari. Selama penelitian ini berlangsung, telah berhasil dilakukan pemotretan pada dua idividu yang berbeda. Satwa ini, ditemukan setiap malam di lokasi stasiun penelitian, sehingga diduga bahwa lokasi stasiun penelitian Laborataroium KSDH dan ekowisata berada di dalam atau merupakan bagian dari areal jelajah satwa ini

K. Kadal

Sebanyak sembilan spesies bangsa kadal telah tercatat pernah ditemukan di Hutan Pendidikan Unhas (Mallawi, 2010). Jenis-jenis kadal yang ditemukan pada Laboratorium Lapangan KSDH dan Ekowsiata selama penelitian ini berlangsung adalah Draco walkery (cecak terbang), Cyrtodactylus jellesmae (tokek hutan), Hemydactylus frenatus (cecak hutan), Eutropis multifasciata, Lamprolepis smaragdinum (kadal hijau)


KESIMPULAN

 

1.  Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa indeks keanekaragaman satwaliar mamalia dan reptil Laboratorium Lapangan Sumberdaya Hutan dan Ekowisata termasuk dalam kategori rendah,

2. satwaliar burung dan kupu-kupu, masing-masing indeks keankaragaman sumber daya termasuk kategori sedang dan tinggi.

3. Laboratorium Lapangan Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas, mempunyai potensi satwaliar yang dapat digolongkan ke dalam kelompok mamalia, burung, reptil dan kodok.

4. Sumberdaya alam yang sangat menarik untuk dijadikan sebagai objek ekowisata, salah satunya adalah satwaliar karena mempunyai peranan yang unik dalam ekosistem dan manfaat ekonomi sumber daya hutan yang terlihat

5.  Sumberdaya hutan berperan sebagai penggerak ekonomi dapat teridentifikasi daalam beberapa hal, yaitu: pertama, penyediaan devisa untuk membangun sektor lain yang membutuhkan teknologi dari luar negeri; kedua, penyediaan hutan dan lahan sebagai modal awal untuk pembangunan berbagai sektor, terutama untuk kegiatan perkebunan, industri dan sektor ekonomi lainnya; dan yang ketiga, peran kehutanan dalam pelayanan jasa lingkungan hidup dan lingkungan sosial masyarakat.

 

SARAN

Untuk mencapai tujuan pengembangan ekowisata di Laboratorium Lapangan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Hutan Pendidikan Unhas, disarankan untuk melakukan penelitian tingkah laku jenis satwa liar besar seperti monyet, tarsius, kuskus, babi hutan dan beberapa jenis burung, serta melakukan penelitian interpretasi lingkungan dan objek wisata dari satwa liar tersebut.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abelson, P. W, 2005. Cost Benefit Analysis and Enviromental Problems. Macquarie University, New South Wales.

Adrianto, L, 2005. Bahan Pengantar Survey Valuasi Ekonomi Sumberdaya Mangrove. Kerjasama antara Departemen Kelautan dan Perikanan, PT. Plarenco dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan-IPB, Bogor.

Dinas Kelautan dan Perikanan, 2008. Laporan Akhir Penyusunan Rencana Tata Ruang Pesisir Kota Semarang. CV. Adicipta Manunggal, Semarang.

Supriyadi, H. I, 2009. Pentingnya Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam Untuk Pengambil Kebijakan. Oseana XXXIV (3): 45 – 57.

Fauzi, A, 2002. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Makalah pada Pelatihan Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan, Universitas Diponegoro, Semarang.

Giorgino, 2004. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Teori dan Aplikasi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Gittinger, J.P, 2008. Analisis ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. UI-Press, Jakarta.

Maedar, F, 2008. Analisis Ekonomi Pengelolaan Mangrove di Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Paryono, T.J, Kusumastanto, T, Dahuri, R dan Bengen, D.G, 1999. Kajian Ekonomi Pengelolaan Tambak di Kawasan Mangrove Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Jurnal Pesisir dan Lautan Indonesia 2 (3): 8 -  6.

Romimotarto, K, 2001. Biologi laut: Ilmu pengetahuan tentang biota laut. Djambatan, Jakarta.

Saparinto, C, 2007. Pendayagunaan Ekosistem Mangrove Mengatasi Kerusakan Wilayah Pantai (Abrasi) Meminimalisasi Dampak Gelombang Tsunami. Effhar dan Dahara Prize, Semarang.