Kamis, 09 Juni 2022

BISNIS KEHUTANAN

      Makalah Mata Kuliah Bisnis Kehutanan                                                              Medan, Juni 2022

USAHA MIKRO NELAYAN DI HUTAN MANGROVE DESA SILAU BARU KECAMATAN AIR JOMAN KABUPATEN ASAHAN

 

 

Dosen Penanggungjawab:
 Dr. Agus Purwoko S.Hut., M.Si.

 

Disusun Oleh:

Yuni Andriani Marpaung
191201091
MNH 6



 

 



 



 

 

 



 

DAPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2022 




KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Usaha Mikro Nelayan Di Hutan Mangrove Desa Silau Baru Kecamatan Air Joman Kabupaten Asahan ”. makalah ini disusun sebagai salah tugas mata kuliah Bisnis Kehutanan. Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab mata kuliah Bisnis Kehutanan Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si sehingga makalah ini dapat selesai.

            Akhir kata penulis ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Dengan penuh kesadaran mengenai segala kekurangan penulis siap menerima saran dan kritik demi perbaikan makalah ini. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca maupun pihak lain.

 

 

                                                                                                                                    Medan,  Juni  2022



DAFTAR ISI

                                                                                                                                               Halaman

KATA PENGANTAR ........................................................................                                           i

DAFTAR ISI ........................................................................................                                         ii

DAFTAR GAMBAR ...........................................................................                                         iii

DAFTAR TABEL ...............................................................................                                           iv

BAB I     PENDAHULUAN

          Latar Belakang ..............................................................................                                        1

          Tujuan ...........................................................................................                                         2

BAB II   TINJAUAN PUSTAKA

BAB III  HASIL DAN PEMBAHASAN

          Hasil  .............................................................................................                                       6

         Pembahasan ...................................................................................                                       7

BAB IV  KESIMPULAN

          Kesimpulan  ..................................................................................                                      8

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN




PENDAHULUAN

Peran Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)  dalam  perekonomian  Indonesia ditunjukkan oleh  peranannya  sebagai  pelaku  usaha  terbesar,  serta  kontribusinya  dalam  penyerapan  tenaga  kerja,  pembentukan produk domestik  bruto (PDB), ekspor  dan  penciptaan  modal  tetap/investasi. UMKM  memiliki  potensi  yang  begitu  besar  namun  kenyataanya UMKM masih mengalami masalah yang hingga kini masih menjadi kendala adalah keterbatasan modal yang dimiliki dan sulitnya UMKM mengakses sumber permodalan. UMKM memiliki  daya  tahan  yang  lebih  baik  terhadap  krisis terlepas  dari  produktivitas yang rendah. Hal ini dikarenakan struktur organisasi dan tenaga kerja UMKM yang lebih fleksibel  dalam menyesuaikan  dengan  perubahan  pasar. Daya  tahan   dan  fleksibilitas ini  menjadikan  UMKM  digunakan  oleh sebagian besar masyarakat sebagai sumber utama penghidupan (Hamzah, 2019).

Pulau-pulau yang terdapat di Kepulauan Indonesia dicirikan oleh pesisirnya yang sangat beraneka ragam. Sebagian besar pulau memiliki wilayah pesisir yang ditumbuhi oleh hutan basah atau hutan mangrove dan terletak pada daerah pasang surut rendah. Pada umumnya pantai berpasir dan terumbu karang tersebar luas di seluruh pesisir Indonesia. Dari segi estetika, terumbu karang yang masih utuh menampilkan pemandangan yang sangat indah, jarang dapat ditandingi oleh ekosistem lainnya. Taman-taman laut yang terdapat di pulau atau pantai yang mempunyai terumbu karang menjadi terkenal. Sementara itu potensi lestari sumber daya ikan pada terumbu karang di perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 80.802 ton/km2/tahun (Direktorat Jendral Perikanan, 1991), dengan luas total terumbu karang kurang lebih 50.000 km2 (Nursal, 2015).

        Hutan mangrove memiliki potensi sumber daya alam yang sangat banyak untuk dimanfaatkan. Mangrove memiliki peranan penting baik secara ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, mangrove berperan sebagai pelindung pantai dari angin, gelombang dan badai. Tegakan mangrove berperan sebagai benteng biologis pemukiman, bangunan dan pertanian dari angin kencang atau instrusi air laut. Secara ekonomis, mangrove dapat dimanfaatkan langsung untuk keperluan sehari-hari seperti kayu bakar, bahan bangunan, keperluan rumah tangga, kertas obat-obatan, kulit kayu dan arang bahkan buahnya dapat diolah menjadi aneka makanan dan minuman (Khoiriah, et al., 2015).

Hutan mangrove adalah salah satu jenis hutan yang banyak ditemukan pada kawasan muara dengan struktur tanah rawa dan/atau padat. Mangrove menjadi salah satu solusi yang sangat penting untuk mengatasi berbagai jenis masalah lingkungan terutama untuk mengatasi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh rusaknya habitat untuk hewan. Kerusakan ini tidak hanya berdampak untuk hewan tapi juga untuk manusia. Mangrove telah menjadi pelindung lingkungan yang sangat besar. Menurut Desyanaputri (2016), Tanaman bakau tumbuh dipantai dan paling banyak dijumpai pada batasan antara muara pantai dengan sungai. Ciri-ciri tanaman bakau ini adalah hidup dengan berkelompok dalam jumlah yang banyak, memiliki akar yang besar dan memiliki buah. Di pantai banyak para petani menanam tanaman bakau, karena manfaatnya yang banyak bagi kelangsungan pantai ditempatnya (Ana, 2015)

            Ekowisata pesisir dan laut adalah wisata yang berbasis pada sumberdaya pesisir dan laut dengan menyertakan aspek pendidikan dan interpretasi terhadap lingkungan alami dan budaya masyarakat dengan pengelolaan kelestarian ekosistem pesisir dan laut. Dengan demikian, ekowisata pesisir dan laut merupakan bentuk wisata yang dikelola dengan pendekatan berkelanjutan dimana pengelolaan bentang alam diarahkan pada kelestarian sumberdaya pesisir dan laut, pengelolaan budaya masyarakat diarahkan pada kesejahteraan masyarakat pesisirdan kegiatan konservasi diarahkan pada upaya menjaga kelangsungan pemanfaatan sumberr daya pesisir untuk waktu sekarang dan masa mendatang. Pembangunan ekowisata di kawasan hutan mangrove dapat dikaji dari aspek ekologi hutan mangrove. Hal ini disebabkan hutan mangrove merupakan objek yang utama dalam kegiatan ekowisata. Pembangunan ekowisata berperan untuk konservasi sumberdaya alam (hutan mangrove) dan membantu masyarakat lokal dalam memenuhi kesejahteraan hidup.

Tujuan

            Adapun Tujuan penulisan laporan yang berjudul “Usaha Mikro Di Hutan Mangrove Desa Silau Baru Kecamatan Air Joman Kabupaten Asahan” yaitu untuk mengetahui jenis usaha mikro yang ada di sekitar mangrove silau baru.



ISI

Salah satu dari 3 kecamatan pesisir di Kabupaten Asahan seluas 60,20km Secara geografis, Kecamatan Tanjungbalai terletak antara 99°45’37” s/d99°51’49” LU dan 2°58’49” s/d 3°5’56” BT, ketinggian 0-1 m diatas permukaanlaut. Disebelah Utara berbatasan denganSelat Malaka dan Kecamatan Silau Laut,disebelah Selatan berbatasan dengan KotaTanjungbalai dan Kecamatan SungaiKepayang Barat, di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Air Jomandan Silau Laut dan disebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan SungaiKepayang Timur dan Selat Malaka


             Gambar 1. Mangrove silau laut

 

Adapun hasil dari usaha bisnis mangrove di desa silau baru kecamatan Air joman kabupaten Asahan yaitu berupa hasil pesisir dan laut yang sangat strategis yang disusun oleh gugusan terumbu karang (coral reef) dan bentangan lamun (seagrass). Ekosistem mangrove berperan sebagai pelindung dan penahan pantai; penghasil bahan organik; habitat fauna mangrove; pengolah bahan-bahan limbah hasil pencemaran industri dan kapal-kapal di lautan; sumber bahan baku industry dan obat-obatan; kawasan pariwisata; pendidikan; penelitian; dan konservasi.

Hasil para nelayan dilaut mangrove silo laut desa silau baru berupa kerang, udang dan jenis ikan lainnya. Kemudian para nelayan akan menjual hasil tangkapan ke pasar terdekat sehingga hasil penjualan dapat menjadi sumber pendapatan bagi para nelayan. Selain itu, para petani mangrove juga menanam tanaman bakau yang mana hasil bibit nya dapat dijual ke beberapa daerah

Pemanfaatan sumberdaya alam yang mengandalkan jasa alam untuk kepuasan manusia. Ekowisata pesisir dan laut tidak hanya menjual tujuan atau objek, tetapi juga menjual filosofi dan rasa sehingga tidak akan mengenal kejenuhan pasar pariwisata (Tuwo, 2011). Pembangunan ekowisata berkelanjutan bertujuan untukmenyediakan kualitas pengalamanwisatawan dan meningkatkan kualitashidup masyarakat lokal. pengelolaan ekowisata laut yang berhasil apabila dapat menarik minatwisatawan untuk berkunjung ke kawasanhutan mangrove. Aktivitas ekowisata yang dapat dibangun di sekitar perairan pantai. Berdasarkan pernyataan Kepala Desa Silo Baru Ahmad Sofyan menjelaskan wisata mangrove ini merupalan kreatifitas kelompok tani di desanya untuk mendongkrak ekonomi sekaligus pelestarian lingkungan

Fungsi pengolahan harus pula dipahami sebagai kegiatan strategis yang menambah nilai dalam mata rantai produksi dan menciptakan keunggulan kompetitif. Sasaran-sasaran ini dicapai dengan merancang dan mengoperasikan kegiatan pengolahan yang hemat biaya atau dengan meragamkan produk. Fungsi teknis pengolahan seharusnya dipandang dari perspektif strategis tersebut. Sehingga manfaat agroindustri adalah merubah bentuk dari satu jenis produk menjadi bentuk yang lain sesuai dengan keinginan konsumen, terjadinya perubahan fungsi waktu, yang tadinya komoditas pertanian yang perishable menjadi tahan disimpan lebih lama, dan meningkatkan kualitas dari produk itu sendiri, sehingga meningkatkan harga dan nilai tambah (Udayana, 2011).

Keadaan nelayan dengan mudah melakukan penangkapan kepiting karena saat itu belum banyak nelayan kepiting. Namun, akhir-akhir ini nelayan sulit mendapatkan banyak kepiting karena adanya banyak nelayan kepiting yang hadir. Akhir-akhir ini rata rata pendapatan nelayan kepiting berkurang karena kepiting yang sudah ditangkap dijual dengan murah kepada pengepul. Nelayan kesulitan untuk mendapatkan kepiting di wilayah sekitar tempat tinggal karena kekurangan peralatan untuk dapat menangkap ke wilayah yang padat kepiting yang letaknya memerlukan perahu

KESIMPULAN

1.        Kekayaan sumber daya alam bahari yang bernilai ekonomis tinggi harusnya bisa menjadi sumber peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir yang mengantungkan hidupnya pada alam. Namun, nelayan terkendala akses pemodalan untuk dapat meningkatkan prasarana penangkapan yang dapat meningkatkan hasil tangkapan.

2.   Nelayan perlu mendapatkan pendampingan secara reguler terlebih dalam mendapatkan fasilitas permodalan dan analisa kelayakan usaha

3.   Pembentukan kelompok nelayan dalam bentuk Kelompok Usaha Bersama dapat menjadi solusi dalam mendapatkan permodalan

4.   Akses pasar hasil tangkap juga harus dibantu mengingat harga penjualan hasil tangkap juga berfluktuasi.

5.       nelayan terkendala akses pemodalan untuk dapat meningkatkan prasarana penangkapan yang dapat meningkatkan hasil tangkapan. Nelayan juga tidak memiliki pengetahuan analisa kelayakan usaha untuk membekali perencanaan usaha yang dapat memprediksi tingkat keberhasilan usaha.


DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Z. W. (2019). Miskin Di Laut Yang Kaya: Nelayan Indonesia Dan Kemiskinan. 1(4), 52–60.

Hamzah, Lies Maria dan Devi Agustien. 2019. Pengaruh Perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan MenengahTerhadap Pendapatan Nasional Pada Sektor UMKM di Indonesia. Universitas lampung. Jurnal ekonomi pembangunan. 8(2): 127-135

Nursal, Fauziah, dan Ismiati. 2015. Struktur dan komposisi vegetasi mangrove Tanjung Sekodi Kabupaten Bengkalis Riau. J. Biogenesis, 2(1):1-

Patra, A. D. A., & Patra, I. K. (2018). Pemberdayaan Manajemen Usaha Kelompok Pembudidaya Tambak di Desa Manurunng Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Timur. RESONA: Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat, 2(2).

Tristiarto, Y., Kusmana, A., & Siswantini, T. (2017). Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Proposal Pengajuan Kredit Bank Bagi Kelompok Usaha Perikanan di Wilayah Kelurahan Rangkapan Jaya Baru. Bina Widya, 26(2), 95–100.